Selasa, 11 Agustus 2015
Kamis, 06 Agustus 2015
Asal Usul Ikan Koi
Kata koi berasal dari bahasa Jepang yang berarti ikan karper. Lebih
spesifik lagi ia merujuk pada nishikigoi yang kurang lebih bermakna ikan
karper yang bersulam emas atau perak. Di Jepang, koi menjadi semacam
simbol cinta dan persahabatan. Ini karena koi merupakan homofon untuk
kata lain yang juga bermakna kasih sayang atau cinta.
Koi dikembangbiakkan dari ikan karper biasa. Pada tahun 1820-an, di
Jepang mulai muncul usaha mengembangbiakkan ikan karper untuk warnanya.
Ini bermula di kota Ojiya di perfektur Niigata yang berada di wilayah
timur laut Pulau Honshu.
| Jenis-jenis Ikan Koi |
Sejumlah pola warna ikan koi mulai terbentuk pada abad ke-20, utamanya adalah tipe Kohaku
(lihat gambar untuk jenis-jenis Kohaku) yang bercorak merah dan putih.
Warna populer termasuk putih, merah, jingga, kuning, perak, biru, hitam,
dan hijau – masing-masingnya dengan identifikasi nama yang berbeda.
Sebelumnya dunia luar tidak begitu mengikuti perkembangan variasi
warna Koi, hingga tahun 1914 Koi Niigata dipamerkan dalam suatu pameran
tahunan di Tokyo. Semenjak itu, minat terhadap Koi semakin merebak ke
seluruh penjuru Jepang.
Tidak cukup di Jepang saja, hobi memelihara Koi pun akhirnya turut
menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Koi mulai umum dijual di
toko-toko ikan dan biasanya Koi dengan kualitas tinggi bisa diperoleh
dari pedagang stertentu yang punya keahlian dalam bidang ini. Kecantikan
ikan Koi membuatnya ramai diminati. Karena kemampuan ikan ini untuk
beradaptasi pada kondisi dan cuaca yang berbeda, koi cepat tersebar ke
Eropa dan benua lainnya.
Sejarah/Asal-usul Koi di Indonesia
Ada dua versi tentang keberadaan ikan Koi di Indonesia Yang pertama menyebutkan bahwa Koi mulai
masuk ke Indonesia sekitar tahun 1991. Ketika berkunjung ke Indonesia,
Kaisar Akihito memberi Presiden Suharto puluhan ekor Koi sebagai
cinderamata. Jenis yang dibawa adalah Kumpai, yang merupakan persilangan
antara ikan karper Indonesia dengan Koi Jepang. Sementara versi yang
lainnya menyebutkan bahwa Koi masuk ke Indonesia pada kurun waktu
1981-1982, dibawa oleh seorang penggemar Koi bernama Hani Moniaga.
Fakta Menarik Tenang Ikan Koi
Koi sesungguhnya merupakan ikan
karper yang dipelihara dan dikembangbiakkan secara selektif dan dipilih karena warnanya.
Ketika Koi dilepas ke alam liar mereka berkembangbiak secara bebas, dalam
beberapa generasi warna ikan Koi akan kembali berubah menjadi warna alami ikan
karper pada umumnya. Koi juga dikenal sebagai ikan yang berumur
panjang. Bahkan di Jepang ada yang mencapai usia 223 tahun. Sungguh mengagumkan...!!!!
Sumber : http://duniakoi.com/asal-usul-ikan-koi-di-indonesia
Rabu, 05 Agustus 2015
PENINGKATAN IMUN IKAN PATIN MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANNI)
| Daun Kayu Manis |
Peningkatan daya imunitas benih yang digunakan merupakan salah satu pendekatan
untuk mendukung keberhasilan budidaya ikan. Imunitas benih ikan yang baik akan
dapat mengurangi kematian pada masa awal penebaran benih pada tahap pembesaran.
Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan suatu bahan
alami yang berasal dari tumbuhan (bahan nabati) dan dapat meningkatkan respons
imun ikan terhadap infeksi patogen yang menyerang serta ramah lingkungan
(Chakraborty dan Hancz, 2011). Tanaman yang diketahui berpotensi sebagai
antibakteri berbasis bahan nabati adalah tumbuhan kayu manis (Cinnamomum burmanni)
PROSES
EKSTRAK DAUN KAYU MANIS
![]() |
| Ikan Patin |
Daun kayu manis dikeringkan pada udara terbuka
(kering udara) tanpa terkena cahaya matahari langsung untuk menghindari
kerusakan bahan aktif yang terdapat pada daun kayu manis. Pengeringan dilakukan
sampai daun dapat dihaluskan dan diayak untuk mendapatkan serbuk daun kayu
manis.
Metode ekstraksi daun kayu manis dilakukan dengan
cara Serbuk daun kayu manis direndam dalam pelarut etanol 96% dengan
perbandingan 1:10 (w/v) artinya 1 kg serbuk daun kayu manis dilarutkan dalam 10
liter etanol 96%. Kemudian dilakukan proses maserasi dengan pengadukan selama
24 jam.
Hasil maserasi didiamkan hingga terbentuk dua
lapisan suspensi bahan. Lapisan atas merupakan filtrat hasil maserasi dan
disaring menggunakan kertas saring dengan mesh size sebesar ±0,6 mm sebagai filter
pertama, sedangkan filter kedua menggunakan kertas saring Whatman no 125.
Lapisan kedua merupakan endapan simplisia daun kayu manis yang kemudian
ditambahkan kembali etanol 96% sebanyak 1000 ml dan dimaserasi selama 24 jam
sambil diaduk. Setelah didiamkan dan mengendap, filtrat kembali disaring dengan
filter pertama dan filter kedua. Hal ini dilakukan berulang sampai filtrat
hasil maserasi menjadi bening.
Filtrat hasil maserasi kemudian diuapkan dengan
menggunakan evaporator sampai didapat ekstrak kental dan kemudian dikeringkan
dengan metode freeze drying. Hasil ekstraksi akan diperoleh dalam bentuk pasta
kering sebanyak 12% kemudian disimpan dalam lemari pendingin sampai waktu akan
digunakan.
CARA
PEMBERIAN EKTRAKSI DAUN SIRIK PADA IKAN
Penambahan ekstrak daun kayu manis ke dalam pakan
dilakukan dengan metode repelleting. Untuk 1 kg pakan, ekstrak daun kayu manis
0,5% dilarutkan dengan akuades sebanyak 200 ml, kemudian dicampurkan dengan
putih telur sebanyak 20 ml sebagai perekat dan diaduk menggunakan mixer hingga
homogen. Campuran yang telah homogen ditambahkan pakan komersial protein 30%
yang sudah dihaluskan terlebih dahulu. Setelah campuran rata, bahan dicetak kembali
kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 35 °C selama 24 jam. Pelet yang sudah
kering kemudian disimpan dalam tempat yang kedap udara.
KELANGSUNGAN
HIDUP IKAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Safratilofa menunjukkan bahwa ekstrak daun kayu manis dapat meningkatkan pertahanan
tubuh ikan patin. Kelangsun gan hidup ikan patin dengan dosis 0,5% terlihat
bahwa tidak ada bakteri yang tumbuh pada media TSA. Ekstrak daun kayu manis 0,5%
dapat menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila. Penambahan ekstrak
daun kayu manis 0,5% dalam pakan dapat digunakan sebagai pencegahan dan
pengendalian penyakit motile aeromonads septicaemia pada ikan patin.
disunting oleh
Riskiyanto efendi dari tesis Safratilofa (INSTITUT PERTANIAN BOGOR)
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/75652
Selasa, 26 Mei 2015
MENGENAL PENYU BELIMBING (Leatherback Turtle)
Penyu belimbing yang telah bertahan hidup selama lebih dari ratusan
juta tahun, kini menghadapi kepunahan. Dari perkiraan menunjukkan,
selama dua puluh tahun terakhir jumlah spesies ini menurun dengan cepat,
khususnya di kawasan pasifik: hanya sekitar 2.300 betina dewasa yang
tersisa. Hal ini menempatkan penyu belimbing pasifik menjadi penyu laut
yang paling terancam populasinya di dunia. Di kawasan Pasifik, seperti
di Indonesia saja, populasinya hanya tersisa sedikit saja dari
sebelumnya (2.983 sarang pada 1999 dari 13000 sarang pada tahun 1984).
Untuk mengatasi hal tersebut, tiga Negara yaitu Indonesia, PNG dan
Kepulauan Solomon telah sepakat untuk melindungi habitat penyu belimbing
melalui Mou Tri National Partnership Agreement (pdf)Uraian fisik penyu belimbing
- Memiliki kulit cangkang berwarna gelap dengan bintik-bintik putih yang tidak sekeras penyu lain
- Sirip depannya panjang
- Ukurannya dapat mencapai hingga 180 cm dan berat 500 kg
- Merupakan penyu laut terbesar dan salah satu reptil terbesar yang masih hidup.
Penyu belimbing dapat ditemukan dari perairan tropis hingga ke lautan kawasan sub kutub dan biasa bertelur di pantai-pantai di kawasan tropis. Spesies ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di lautan terbuka hanya muncul ke daratan pada saat bertelur.
Perkembang biakan
Penyu belimbing betina dapat bertelur empat sampai lima kali per musim, setiap kali sebanyak 60 sampai 129 telur. Anehnya, sekitar setengah dari telur di setiap sarang sangat kecil untuk dapat berkembang dengan baik, atau tidak memiliki kuning telur. Penyu belimbing bertelur setiap dua atau tiga tahun dengan masa inkubasi sekitar 60 hari.
Makanan
Penyu belimbing berukuran besar sangat luar biasa, karena hanya makan makanan rendah energi dan rendah protein dari mahluk-mahluk lunak seperti ubur-ubur, cumi-cumi dan tunicates (invertebrata seperti ubur-ubur laut).Populasi dan Distribusi
Penyu belimbing dilaporkan terlihat di hingga di wilayah utara, Alaska hingga di kawasan selatan di Tanjung Harapan, Afrika.
Ancaman
- Terlalu sedikit individu ditengah ancaman yang bertubi-tubi; seperti spesies penyu laut lainnya, penyu belimbing terancam oleh pengambilan telurnya, perburuan penyu dewasa untuk diambil dagingnya, pengrusakan pantai tempat bertelur, dan kematian tidak sengaja karena tertangkap oleh kapal ikan. Karena berbagai ancaman ini, penyu belimbing termasuk dalam daftar Critically Endangered yang disusun oleh IUCN Red List.
- Pengambilan secara langsung; telur penyu diambil secara tradisional, khususnya di Asia, dan praktek ini kemungkinan merupakanpenyebab turunnya populasi spesies ini di dunia.
- Pengambilan secara tidak langsung; pada periode 1990an, setiap tahunnya diperkirakan sekitar 1.500 penyu belimbing betina dewasa terbunuh di jaring longline dan gillnet di kawasan Pasifik.
- Pencemaran; pencemaran laut oleh plastik merupakan salah satu penyebab kematian. Phthalates, bahan kimia yang berasal dari plastik, ditemukan dalam kuning telur penyu belimbing. Penyu belimbing sering mengira plastik adalah ubur-ubur, makanan kesukaan mereka dan kemudian tercekik saat menelannya.
Rabu, 18 Maret 2015
TEKNIK PEMBERIAN PAKAN DALAM BUDIDAYA IKAN LELE
Pakan
merupakan hal inti yang wajib diketahui dalam kegiatan budidaya ikan.
Mengetahui jenis pakan dan cara pemberian pakan merupakan dua hal yang tidak
dapat dipisahkan dan wajib diketahui. Jika kita sembrono dalam pemberian
pakan yang baik bagi lele, kita tidak akan mencapai target produksi yang
kita inginkan, meskipun benih yang kita ternak adalah benih lele kualitas super
maupun lele konsumsi. Disamping pemilihan lokasi budidaya dan kondisi air,
pakan adalah faktor penentu utama dalam pertumbuhan ikan lele. Pakan lele yang
baik yang dibarengi dengan frekuensi aturan pemberian pakan yang tepat akan
sangat menguntungkan bagi siapapun yang membudidayakan. Untuk itu, akan kami
jelaskan beberapa jenis pakan lele yang banyak digunakan oleh para pembudidaya.
Jenis Pakan Lele
1)
Pelet
Jenis pakan pertama dan paling
banyak digunakan adalah pakan berbentuk pelet. Pelet mengandung campuran dari
berbagai macam tepung (terigu, ikan, tulang, daging) bungkil kedelai dan
kelapa, mineral, dedak, minyak dan tambahan macam - macam vitamin yang
dibutuhkan ikan lele. Ada dua jenis pelet yang beredar di pasaran yaitu pelet
apung dan pelet tenggelam. Keduanya mempunyai sifat yang berbeda namun sangat
disukai lele. Pelet yang diberikan haruslah mengandung protein yang tinggi.
Biasanya pelet apung mengandung lebih banyak protein daripada pelet tenggelam.
2)
Pakan
Tambahan
Pakan jenis ini banyak digunakan
untuk kegiatan pembesaran dan meminimalisir biaya produksi. Pakan tambahan
tidak disarankan untuk diberikan terlalu banyak. Pakan tambahan diberikan
paling tidak sepuluh hari menjelang masa panen. Adapun jenis pakan tambahan
sangat bervariasi tergantung pada sulit tidaknya pakan tersebut didapatkan oleh
pembudidaya lele. Pakan tambahan yang sering digunakan oleh para peternak
adalah ayam tiren, ikan runcah dll. Hal yang terpenting adalah pakan tersebut
tetap memiliki kandungan protein yang tinggi dan memiliki gizi yang cukup
sehingga dapat memaksimalkan pertumbuhan ikan lele. Namun kita juga tidak boleh
lupa mengenai kebersihan pakan. Pakan tambahan juga banyak mengandung penyakit,
sehingga wajib untuk dibersihkan terlebih dahulu.
3)
Pakan Alami
Pakan alami adalah pakan yang
berasal dari alam yang mengandung banyak protein tinggi. Sangat sesuai untuk
mempercepat pertumbuhan ikan lele. Berbagai jenis pakan alami lele antara lain
cacing sutera. Cacing sutera sangat cocok untuk lele dalam proses pembenihan.
Cacing sutera sangat baik digunakan untuk pakan benih lele umur 4 hari sampai
13 hari. Sedangakan pakan alami yang lain yang dapat diberikan adalah plankton,
uget-uget/cuk, kutu air dan mikroorganisme lain yang dapat hidup dan berkembang
di dalam media kolam lele. Karena pertumbuhan mikroorganisme ini tidaklah
mudah, maka perlu dilakukan pengomposan/kultur pada kolam perawatan benih agar
pertumbuhan mikroorganisme tersebut bisa lebih banyak. Sebaiknya kita tidak
mengganti air kolam hingga saat panen selesai, kecuali terjadi hal-hal yang
mutlak diperlukan seperti jika air mengandung racun atau zat berbahaya bagi
ikan.
Aturan Pemberian Pakan Lele
a) Pakan Apung
1.
Kita
semprotkan sedikit air ke dalam pakan, cukup sampai basah dan tidak becek.
Setelah itu kita aduk merata dan kita biarkan sekitar 20 menit sampai pakan
menjadi agak kenyal dan siap tebar.
2.
Kita tebar
pakan secara merata di media ikan lele sedikit demi sedikit sehingga kita dapat
mengetahui seberapa cepat lele menghabiskan pakana tersebut.
3.
Kita tebar
terus pelet hingga ikan lele kenyang
4.
Kita
hentikan pemberian pakan jika ikan terlihat melambat dan terlihat kenyang.
b) Pakan Tenggelam
1.
Pakan tidak
perlu kita basahi
2.
Kita
sebarkan pakan di satu titik hingga ikan kenyang dan kita hentikan saat ikan
terlihat lambat saat makan.
Waktu Pemberian Pakan
·
Pemberian
pakan yang benar dan disarankan adalah 4 sampai 6 kali sehari
1. 4x sehari yaitu pukul : 09.00,
13.00, 17.00, 21.00
2. 6x sehari yaitu pukul : 09.00,
12.00, 15.00, 17.00, 19.00, 21.00
3. Pemilihan jam terserah pada kita,
namun setelah kita memilih salah satu, sebaiknya kita konsisten untuk
menggunakan pilihan tersebut seterusnya.
Larangan Dalam Pemberian Pakan
·
Jangan
terlalu banyak memberikan pakan. Pakan yang tersisa akan menyatu dengan air
menjadi amoniak dan dapat meracuni lele.
·
Jangan
mengobok - obok kolam saat lele makan atau sesaat setelah ikan lele
menghabiskan makanannya. Lele yang stress akan memuntahkan kembali pakan dan
menjadi amoniak di media kolam.
·
Jangan
memberi makan lele saat hujan.
·
Jangan
memberi makan pada pagi sekali karena insang rawan terkena radang jika terlalu
pagi.
Dengan memperhatikan pola makan yang
benar maka ikan lele akan selalu sehat dan dapat tumbuh sesuai dengan keinginan
kita. Namun sebaliknya, jika kita meremehkan pola pemberian pakan, maka kita
juga akan merasakan akibatnya.
Sumber :
http://www.usahaternak.com, ”Jenis Pakan Lele dan Aturan Pemberian Pakan” 2014
http://mahakam.biz, “Berbagai Jenis Pakan Alami Ikan Lele”, 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
Selasa, 11 Agustus 2015
Kamis, 06 Agustus 2015
Asal Usul Ikan Koi
Kata koi berasal dari bahasa Jepang yang berarti ikan karper. Lebih
spesifik lagi ia merujuk pada nishikigoi yang kurang lebih bermakna ikan
karper yang bersulam emas atau perak. Di Jepang, koi menjadi semacam
simbol cinta dan persahabatan. Ini karena koi merupakan homofon untuk
kata lain yang juga bermakna kasih sayang atau cinta.
Koi dikembangbiakkan dari ikan karper biasa. Pada tahun 1820-an, di
Jepang mulai muncul usaha mengembangbiakkan ikan karper untuk warnanya.
Ini bermula di kota Ojiya di perfektur Niigata yang berada di wilayah
timur laut Pulau Honshu.
| Jenis-jenis Ikan Koi |
Sejumlah pola warna ikan koi mulai terbentuk pada abad ke-20, utamanya adalah tipe Kohaku
(lihat gambar untuk jenis-jenis Kohaku) yang bercorak merah dan putih.
Warna populer termasuk putih, merah, jingga, kuning, perak, biru, hitam,
dan hijau – masing-masingnya dengan identifikasi nama yang berbeda.
Sebelumnya dunia luar tidak begitu mengikuti perkembangan variasi
warna Koi, hingga tahun 1914 Koi Niigata dipamerkan dalam suatu pameran
tahunan di Tokyo. Semenjak itu, minat terhadap Koi semakin merebak ke
seluruh penjuru Jepang.
Tidak cukup di Jepang saja, hobi memelihara Koi pun akhirnya turut
menjangkiti banyak orang di seluruh dunia. Koi mulai umum dijual di
toko-toko ikan dan biasanya Koi dengan kualitas tinggi bisa diperoleh
dari pedagang stertentu yang punya keahlian dalam bidang ini. Kecantikan
ikan Koi membuatnya ramai diminati. Karena kemampuan ikan ini untuk
beradaptasi pada kondisi dan cuaca yang berbeda, koi cepat tersebar ke
Eropa dan benua lainnya.
Sejarah/Asal-usul Koi di Indonesia
Ada dua versi tentang keberadaan ikan Koi di Indonesia Yang pertama menyebutkan bahwa Koi mulai
masuk ke Indonesia sekitar tahun 1991. Ketika berkunjung ke Indonesia,
Kaisar Akihito memberi Presiden Suharto puluhan ekor Koi sebagai
cinderamata. Jenis yang dibawa adalah Kumpai, yang merupakan persilangan
antara ikan karper Indonesia dengan Koi Jepang. Sementara versi yang
lainnya menyebutkan bahwa Koi masuk ke Indonesia pada kurun waktu
1981-1982, dibawa oleh seorang penggemar Koi bernama Hani Moniaga.
Fakta Menarik Tenang Ikan Koi
Koi sesungguhnya merupakan ikan
karper yang dipelihara dan dikembangbiakkan secara selektif dan dipilih karena warnanya.
Ketika Koi dilepas ke alam liar mereka berkembangbiak secara bebas, dalam
beberapa generasi warna ikan Koi akan kembali berubah menjadi warna alami ikan
karper pada umumnya. Koi juga dikenal sebagai ikan yang berumur
panjang. Bahkan di Jepang ada yang mencapai usia 223 tahun. Sungguh mengagumkan...!!!!
Sumber : http://duniakoi.com/asal-usul-ikan-koi-di-indonesia
Rabu, 05 Agustus 2015
PENINGKATAN IMUN IKAN PATIN MENGGUNAKAN EKSTRAK DAUN KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANNI)
| Daun Kayu Manis |
Peningkatan daya imunitas benih yang digunakan merupakan salah satu pendekatan
untuk mendukung keberhasilan budidaya ikan. Imunitas benih ikan yang baik akan
dapat mengurangi kematian pada masa awal penebaran benih pada tahap pembesaran.
Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan suatu bahan
alami yang berasal dari tumbuhan (bahan nabati) dan dapat meningkatkan respons
imun ikan terhadap infeksi patogen yang menyerang serta ramah lingkungan
(Chakraborty dan Hancz, 2011). Tanaman yang diketahui berpotensi sebagai
antibakteri berbasis bahan nabati adalah tumbuhan kayu manis (Cinnamomum burmanni)
PROSES
EKSTRAK DAUN KAYU MANIS
![]() |
| Ikan Patin |
Daun kayu manis dikeringkan pada udara terbuka
(kering udara) tanpa terkena cahaya matahari langsung untuk menghindari
kerusakan bahan aktif yang terdapat pada daun kayu manis. Pengeringan dilakukan
sampai daun dapat dihaluskan dan diayak untuk mendapatkan serbuk daun kayu
manis.
Metode ekstraksi daun kayu manis dilakukan dengan
cara Serbuk daun kayu manis direndam dalam pelarut etanol 96% dengan
perbandingan 1:10 (w/v) artinya 1 kg serbuk daun kayu manis dilarutkan dalam 10
liter etanol 96%. Kemudian dilakukan proses maserasi dengan pengadukan selama
24 jam.
Hasil maserasi didiamkan hingga terbentuk dua
lapisan suspensi bahan. Lapisan atas merupakan filtrat hasil maserasi dan
disaring menggunakan kertas saring dengan mesh size sebesar ±0,6 mm sebagai filter
pertama, sedangkan filter kedua menggunakan kertas saring Whatman no 125.
Lapisan kedua merupakan endapan simplisia daun kayu manis yang kemudian
ditambahkan kembali etanol 96% sebanyak 1000 ml dan dimaserasi selama 24 jam
sambil diaduk. Setelah didiamkan dan mengendap, filtrat kembali disaring dengan
filter pertama dan filter kedua. Hal ini dilakukan berulang sampai filtrat
hasil maserasi menjadi bening.
Filtrat hasil maserasi kemudian diuapkan dengan
menggunakan evaporator sampai didapat ekstrak kental dan kemudian dikeringkan
dengan metode freeze drying. Hasil ekstraksi akan diperoleh dalam bentuk pasta
kering sebanyak 12% kemudian disimpan dalam lemari pendingin sampai waktu akan
digunakan.
CARA
PEMBERIAN EKTRAKSI DAUN SIRIK PADA IKAN
Penambahan ekstrak daun kayu manis ke dalam pakan
dilakukan dengan metode repelleting. Untuk 1 kg pakan, ekstrak daun kayu manis
0,5% dilarutkan dengan akuades sebanyak 200 ml, kemudian dicampurkan dengan
putih telur sebanyak 20 ml sebagai perekat dan diaduk menggunakan mixer hingga
homogen. Campuran yang telah homogen ditambahkan pakan komersial protein 30%
yang sudah dihaluskan terlebih dahulu. Setelah campuran rata, bahan dicetak kembali
kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 35 °C selama 24 jam. Pelet yang sudah
kering kemudian disimpan dalam tempat yang kedap udara.
KELANGSUNGAN
HIDUP IKAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Safratilofa menunjukkan bahwa ekstrak daun kayu manis dapat meningkatkan pertahanan
tubuh ikan patin. Kelangsun gan hidup ikan patin dengan dosis 0,5% terlihat
bahwa tidak ada bakteri yang tumbuh pada media TSA. Ekstrak daun kayu manis 0,5%
dapat menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila. Penambahan ekstrak
daun kayu manis 0,5% dalam pakan dapat digunakan sebagai pencegahan dan
pengendalian penyakit motile aeromonads septicaemia pada ikan patin.
disunting oleh
Riskiyanto efendi dari tesis Safratilofa (INSTITUT PERTANIAN BOGOR)
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/75652
Selasa, 26 Mei 2015
MENGENAL PENYU BELIMBING (Leatherback Turtle)
Penyu belimbing yang telah bertahan hidup selama lebih dari ratusan
juta tahun, kini menghadapi kepunahan. Dari perkiraan menunjukkan,
selama dua puluh tahun terakhir jumlah spesies ini menurun dengan cepat,
khususnya di kawasan pasifik: hanya sekitar 2.300 betina dewasa yang
tersisa. Hal ini menempatkan penyu belimbing pasifik menjadi penyu laut
yang paling terancam populasinya di dunia. Di kawasan Pasifik, seperti
di Indonesia saja, populasinya hanya tersisa sedikit saja dari
sebelumnya (2.983 sarang pada 1999 dari 13000 sarang pada tahun 1984).
Untuk mengatasi hal tersebut, tiga Negara yaitu Indonesia, PNG dan
Kepulauan Solomon telah sepakat untuk melindungi habitat penyu belimbing
melalui Mou Tri National Partnership Agreement (pdf)Uraian fisik penyu belimbing
- Memiliki kulit cangkang berwarna gelap dengan bintik-bintik putih yang tidak sekeras penyu lain
- Sirip depannya panjang
- Ukurannya dapat mencapai hingga 180 cm dan berat 500 kg
- Merupakan penyu laut terbesar dan salah satu reptil terbesar yang masih hidup.
Penyu belimbing dapat ditemukan dari perairan tropis hingga ke lautan kawasan sub kutub dan biasa bertelur di pantai-pantai di kawasan tropis. Spesies ini menghabiskan sebagian besar hidupnya di lautan terbuka hanya muncul ke daratan pada saat bertelur.
Perkembang biakan
Penyu belimbing betina dapat bertelur empat sampai lima kali per musim, setiap kali sebanyak 60 sampai 129 telur. Anehnya, sekitar setengah dari telur di setiap sarang sangat kecil untuk dapat berkembang dengan baik, atau tidak memiliki kuning telur. Penyu belimbing bertelur setiap dua atau tiga tahun dengan masa inkubasi sekitar 60 hari.
Makanan
Penyu belimbing berukuran besar sangat luar biasa, karena hanya makan makanan rendah energi dan rendah protein dari mahluk-mahluk lunak seperti ubur-ubur, cumi-cumi dan tunicates (invertebrata seperti ubur-ubur laut).Populasi dan Distribusi
Penyu belimbing dilaporkan terlihat di hingga di wilayah utara, Alaska hingga di kawasan selatan di Tanjung Harapan, Afrika.
Ancaman
- Terlalu sedikit individu ditengah ancaman yang bertubi-tubi; seperti spesies penyu laut lainnya, penyu belimbing terancam oleh pengambilan telurnya, perburuan penyu dewasa untuk diambil dagingnya, pengrusakan pantai tempat bertelur, dan kematian tidak sengaja karena tertangkap oleh kapal ikan. Karena berbagai ancaman ini, penyu belimbing termasuk dalam daftar Critically Endangered yang disusun oleh IUCN Red List.
- Pengambilan secara langsung; telur penyu diambil secara tradisional, khususnya di Asia, dan praktek ini kemungkinan merupakanpenyebab turunnya populasi spesies ini di dunia.
- Pengambilan secara tidak langsung; pada periode 1990an, setiap tahunnya diperkirakan sekitar 1.500 penyu belimbing betina dewasa terbunuh di jaring longline dan gillnet di kawasan Pasifik.
- Pencemaran; pencemaran laut oleh plastik merupakan salah satu penyebab kematian. Phthalates, bahan kimia yang berasal dari plastik, ditemukan dalam kuning telur penyu belimbing. Penyu belimbing sering mengira plastik adalah ubur-ubur, makanan kesukaan mereka dan kemudian tercekik saat menelannya.
Rabu, 18 Maret 2015
TEKNIK PEMBERIAN PAKAN DALAM BUDIDAYA IKAN LELE
Pakan
merupakan hal inti yang wajib diketahui dalam kegiatan budidaya ikan.
Mengetahui jenis pakan dan cara pemberian pakan merupakan dua hal yang tidak
dapat dipisahkan dan wajib diketahui. Jika kita sembrono dalam pemberian
pakan yang baik bagi lele, kita tidak akan mencapai target produksi yang
kita inginkan, meskipun benih yang kita ternak adalah benih lele kualitas super
maupun lele konsumsi. Disamping pemilihan lokasi budidaya dan kondisi air,
pakan adalah faktor penentu utama dalam pertumbuhan ikan lele. Pakan lele yang
baik yang dibarengi dengan frekuensi aturan pemberian pakan yang tepat akan
sangat menguntungkan bagi siapapun yang membudidayakan. Untuk itu, akan kami
jelaskan beberapa jenis pakan lele yang banyak digunakan oleh para pembudidaya.
Jenis Pakan Lele
1)
Pelet
Jenis pakan pertama dan paling
banyak digunakan adalah pakan berbentuk pelet. Pelet mengandung campuran dari
berbagai macam tepung (terigu, ikan, tulang, daging) bungkil kedelai dan
kelapa, mineral, dedak, minyak dan tambahan macam - macam vitamin yang
dibutuhkan ikan lele. Ada dua jenis pelet yang beredar di pasaran yaitu pelet
apung dan pelet tenggelam. Keduanya mempunyai sifat yang berbeda namun sangat
disukai lele. Pelet yang diberikan haruslah mengandung protein yang tinggi.
Biasanya pelet apung mengandung lebih banyak protein daripada pelet tenggelam.
2)
Pakan
Tambahan
Pakan jenis ini banyak digunakan
untuk kegiatan pembesaran dan meminimalisir biaya produksi. Pakan tambahan
tidak disarankan untuk diberikan terlalu banyak. Pakan tambahan diberikan
paling tidak sepuluh hari menjelang masa panen. Adapun jenis pakan tambahan
sangat bervariasi tergantung pada sulit tidaknya pakan tersebut didapatkan oleh
pembudidaya lele. Pakan tambahan yang sering digunakan oleh para peternak
adalah ayam tiren, ikan runcah dll. Hal yang terpenting adalah pakan tersebut
tetap memiliki kandungan protein yang tinggi dan memiliki gizi yang cukup
sehingga dapat memaksimalkan pertumbuhan ikan lele. Namun kita juga tidak boleh
lupa mengenai kebersihan pakan. Pakan tambahan juga banyak mengandung penyakit,
sehingga wajib untuk dibersihkan terlebih dahulu.
3)
Pakan Alami
Pakan alami adalah pakan yang
berasal dari alam yang mengandung banyak protein tinggi. Sangat sesuai untuk
mempercepat pertumbuhan ikan lele. Berbagai jenis pakan alami lele antara lain
cacing sutera. Cacing sutera sangat cocok untuk lele dalam proses pembenihan.
Cacing sutera sangat baik digunakan untuk pakan benih lele umur 4 hari sampai
13 hari. Sedangakan pakan alami yang lain yang dapat diberikan adalah plankton,
uget-uget/cuk, kutu air dan mikroorganisme lain yang dapat hidup dan berkembang
di dalam media kolam lele. Karena pertumbuhan mikroorganisme ini tidaklah
mudah, maka perlu dilakukan pengomposan/kultur pada kolam perawatan benih agar
pertumbuhan mikroorganisme tersebut bisa lebih banyak. Sebaiknya kita tidak
mengganti air kolam hingga saat panen selesai, kecuali terjadi hal-hal yang
mutlak diperlukan seperti jika air mengandung racun atau zat berbahaya bagi
ikan.
Aturan Pemberian Pakan Lele
a) Pakan Apung
1.
Kita
semprotkan sedikit air ke dalam pakan, cukup sampai basah dan tidak becek.
Setelah itu kita aduk merata dan kita biarkan sekitar 20 menit sampai pakan
menjadi agak kenyal dan siap tebar.
2.
Kita tebar
pakan secara merata di media ikan lele sedikit demi sedikit sehingga kita dapat
mengetahui seberapa cepat lele menghabiskan pakana tersebut.
3.
Kita tebar
terus pelet hingga ikan lele kenyang
4.
Kita
hentikan pemberian pakan jika ikan terlihat melambat dan terlihat kenyang.
b) Pakan Tenggelam
1.
Pakan tidak
perlu kita basahi
2.
Kita
sebarkan pakan di satu titik hingga ikan kenyang dan kita hentikan saat ikan
terlihat lambat saat makan.
Waktu Pemberian Pakan
·
Pemberian
pakan yang benar dan disarankan adalah 4 sampai 6 kali sehari
1. 4x sehari yaitu pukul : 09.00,
13.00, 17.00, 21.00
2. 6x sehari yaitu pukul : 09.00,
12.00, 15.00, 17.00, 19.00, 21.00
3. Pemilihan jam terserah pada kita,
namun setelah kita memilih salah satu, sebaiknya kita konsisten untuk
menggunakan pilihan tersebut seterusnya.
Larangan Dalam Pemberian Pakan
·
Jangan
terlalu banyak memberikan pakan. Pakan yang tersisa akan menyatu dengan air
menjadi amoniak dan dapat meracuni lele.
·
Jangan
mengobok - obok kolam saat lele makan atau sesaat setelah ikan lele
menghabiskan makanannya. Lele yang stress akan memuntahkan kembali pakan dan
menjadi amoniak di media kolam.
·
Jangan
memberi makan lele saat hujan.
·
Jangan
memberi makan pada pagi sekali karena insang rawan terkena radang jika terlalu
pagi.
Dengan memperhatikan pola makan yang
benar maka ikan lele akan selalu sehat dan dapat tumbuh sesuai dengan keinginan
kita. Namun sebaliknya, jika kita meremehkan pola pemberian pakan, maka kita
juga akan merasakan akibatnya.
Sumber :
http://www.usahaternak.com, ”Jenis Pakan Lele dan Aturan Pemberian Pakan” 2014
http://mahakam.biz, “Berbagai Jenis Pakan Alami Ikan Lele”, 2014
Langganan:
Postingan (Atom)

