Pages - Menu

Selasa, 26 Mei 2020

MENGENAL PANCING RAWAI


Pancing jenis Rawai ini merupakan salah satu jenis alat tangkap yang cukup popular dan alat ini sudah banyak Diaplikasikan di beberapa Daerah. Pancing rawai terdiri dari sejumlah mata kail yang dipasangkan pada panjangnya tali yang mendatar. Tali yang mendatar ini merupakan tali utama dari suatu rangkaian pancing rawai. Jenis pancing rawai terdiri dari pancing rawai kolom perairan, dan pancing rawai dasar. Pancing rawai kolam perairan dan pancing rawai dasar masing-masing terdiri dari pancing rawal vertikal dan pancing rawai horizontal.Pancing rawai terdiri dari sejumlah mata kail yang dipasangkan pada panjangnya tali yang mendatar. Tali yang mendatar ini merupakan tali utama dari suatu rangkaian pancing rawai. Jenis pancing rawai terdiri dari pancing rawai kolom perairan, dan pancing rawai dasar. Pancing rawai kolam perairan dan pancing rawai dasar masing-masing terdiri dari pancing rawal vertikal dan pancing rawai horizontal.

Konstruksi pancing


Seperangkat alat rawai mempunyai susunan bagian-bagian dan ukuran sebagai berikut; tali utama ukuran 3-4 mm, panjang 450-500 m, cabang dengan panjang 30 cm s/d 100 cm jarak antara tali cabang 3-4 m. Ukuran mata pancing nomor 7 atau 9 untuk di perairan pantai, dan nomor 4 s/d 1 untuk perairan lepas pantai. Tail pelampung dengan ukuran 20-80 cm, dengan panjang 8 cm. Pada setiap 50 mata pancing dipasang 1 pelampung.

Metode pengoperasian

Metode pengoperasian dari pancing rawai adalah dengan cara menset pancing di perairan, kemudian dibiarkan untuk beberapa lama. Untuk rawai yang dioperasikan siang hari, kapal bersama alat tangkap dibiarkan hanyut, sedangkan untuk yang dioperasikan malam hari, setelah pancing diset, kapal dijangkar.



Jumat, 22 Mei 2020

PRINSIP-PRINSIP PENANGANAN IKAN AGAR TETAP SEGAR


Ikan segar adalah: Ikan yang masih memiliki sifat yang sama dengan ikan hidup. Bau dan rasanya masih segar. Kualitas ikan yang baik artinya kesegaran ikan terjaga, bebas dari pembusukan dan bebas dari kuman/bakteri. Kurang hati-hati dalam proses penanganan ikan, dan kebersihan yang tidak dijaga akan memberikan pengaruh buruk terhadap kualitas ikan.   Ikan yang ditangkap harus diperlakukan sebagai makanan sejak di atas kapal, sehingga faktor kebersihan harus benar-benar diperhatikan. Kualitas ikan yang baik akan memiliki nilai ekonomi yang baik pula, oleh karena banyak industri yang mencari ikan yang segar, terjaga kebersihannya dan bebas dari kuman/bakteri. Ketika ikan mati, jika tidak segera didinginkan dengan es, maka suhu panas akan mempercepat pembusukan, dimana ada bakteri. Selain itu, jika ikan mati tidak langsung didinginkan, akan menyebabkan kadar histamin yang tinggi yang dapat menimbulkan racun dan berbahaya bagi orang yang memakannya.
Penanganan ikan yang baik merupakan keharusan agar mendapatkan jaminan kualitas dan keamanan produk. Untuk mendapatkan kualitas tinggi tersebut diperlukan kedisplinan di dalam penanganan ikan.
Ada 4 prinsip yang harus diperhatikan dalam memperlakukan ikan hasil tangkapan agar tetap sgar yaitu :
1.    CEPAT = Setelah ikan ditangkap segera secepat mungkin disimpan di palka atau  
                     coolbox
2.    HATI-HATI = Gunakan alas diatas permukaan gladak, jangan sampai ikan terbentur 
                           saat dibawa ke palka atau dimasukkan dalam coolbox
3.    DINGIN = Tidak terkena sinar matahari langsung, simpan ikan di palka atau coolbox 
                      dengan es yang cukup, Usahakan suhu pusat tubuh ikan 0-40C
4.    BERSIH = bahan dan alat yang digunakan harus senantiasa bersih dan higienis, 
                       pekerja dalam keadaan bersih dan higienis

Sumber Bacaan :

Sjarif, B., Suwardiyono dan S. D. Gautama. 2012. Penangkapan dan Penanganan Ikan Tuna Segar di Kapal Rawai Tuna. Semarang

DJPT-KKP. 2014. Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan di Kapal Perikanan. Jakarta

Rabu, 20 Mei 2020

MENGENAL ALAT TANGKAP BUBU


Bubu merupakan alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan. Variasi bentuk bubu banyak sekali hampir setiap daerah perikanan mempunyai model bentuk sendiri seperti bentuk sangkar, silinder, gendang, segi tiga memanjang (kubus), dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu, secara garis besar bubu terdiri dari bagian-bagian badan, mulut dan pintu.

Bubu termasuk alat perangkap (traps) artinya alat tangkap ini berupa jebakan dan alat tangkap ini sifatnya pasif. Badan bubu berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung, mulut bubu berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tapi tidak dapat keluar pintu bubu merupakan bagian yaitu tempat pengambilan hasil tangkapan.

Dilihat dari cara operasional penangkapannya bubu dapat dibedakan menjadi 3 golongan :

1.    Bubu dasar (ground fishpot)
Bubu yang daerah operasionalnya ada di dasar perairan. Untuk bubu dasar, ukuran bubu dasar beragam, menurut besar kecilnya yang di buat menurut keperluan. Untuk bubu kecil, biasanya memiliki ukuran panjang 1 m, lebar 50–75 cm, tinggi 25–30 cm. untuk bubu besar bisa meraih ukuran panjang 3, 5 m, lebar 2 m, tinggi 75–100 cm. Hasil tangkapan dengan bubu dasar biasanya terbagi dalam beberapa jenis ikan, udang mutu baik, seperti Kwe (Caranx spp), Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap (Lutjanus spp), kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dan lain-lain.

2.    Bubu apung (floating fishpot)
Bubu yang dalam operasional penangkapannya diapungkan. Jenis bubu apung tidak sama dengan bubu dasar. Wujud bubu apung ini dapat silindris, dapat pula mirip kurung-kurung atau kantong yang dimaksud sero gantung. Bubu apung dilengkapi dengan pelampung dari bambu atau rakit bambu yang pemakaiannya ada yang ditempatkan pas dibagian atasnya. Hasil tangkapan bubu apung yaitu beberapa jenis ikan pelagik, seperti tembang, japuh, julung-julung, torani, kembung, selar, dan lain-lain. Pengoperasian Bubu apung dilengkapi pelampung dari bambu atau rakit bambu, dilabuh lewat tali panjang serta dikaitkan dengan jangkar. Panjang tali sesuai dengan kedalaman air, biasanya 1, 5 kali dari kedalaman air.

3.    Bubu hanyut (drifting fishpot)
Bubu yang dalam operasional penangkapannya dihanyutkan. Bubu hanyut atau “pakaja“ terhitung bubu ukuran kecil, berupa silindris, panjang 0, 75 m, diameter 0, 4-0, 5 m. Hasil tangkapan bubu tenggelam yaitu ikan torani, ikan terbang (flying fish). Pada saat penangkapan, bubu hanyut ditata dalam kelompok-kelompok yang selanjutnya dirangkaikan dengan kelompok-kelompok berikutnya hingga jumlahnya banyak, antara 20-30 buah, bergantung besar kecil perahu/kapal yang dipakai dalam penangkapan.

Sumber Bacaan :

Kamis, 14 Mei 2020

CARA PENANGANAN IKAN MENGGUNAKAN ES

Secara umum cara yang terbaik untuk mendinginkan ikan adalah dengan menggunakan es, karena es mendinginkan dengan cepat tanpa banyak mempengaruhi keadaan ikan dan dengan biaya yang tidak mahal. Es pada umumnya dibuat dari bahan air tawar tetapi dapat pula dibuat dengan air laut. Berdasarkan bentuknya es dapat dikelompokan menjadi 5 (lima) bentuk antara lain :
1. Es balok (block ice), berupa balok berukuran 12 – 60 kg per balok,
2. Es tabung (tube ice)
3. Es keping tebal (plate ice)
4. Es keping tipis (flake ice)
5. Es halus (slush ice)
Es balok adalah yang paling banyak di produksi dan banyak pula dibutuhkan oleh nelayan, karena murah dan mudah dalam pengangkutannya.
Es curah jika di campur dengan garam dapur mempunyai titik cair jauh di bawah 00C. Es yang bercampur dengan garam ini dapat mendinginkan ikan dengan cepat dan lebih efisien, tetapi menyebabkan ikan agak asin dan beratnya menjadi berkurang. Menilai mutu es yang baik dapat dilihat dari kemurnian dan kejernihan yaitu terlihat padat, bening dan kering (tidak meleleh). Es yang tidak kering menunjukan bahwa suhunya hanya 00C, sedangkan es yang kering suhunya  dapat mencapai -70C. Sedangkan es yang kurang baik adalah tidak padat, berwarna putih terdapat rongga-rongga yang berisi udara atau kotoran lain.
Cara-cara penanganan ikan dalam pendinginan ikan dengan es sangat beragam tergantung pada : ¾ Tempatnya seperti di kapal, tempat pendaratan ikan, tempat pelelangan, pasar ikan, pabrik pengolahan ikan, supermarket, dll. ¾ Jenis ikan ¾ Tujuan pendinginan ¾ Penataan dan perbandingan jumlah ikan dan es didalam peti atau palka Prosedur umum yang dianjurkan dalam penanganan ikan sebelum disimpan ialah ikan terlebih dahulu dibuang isi perut dan insangnya, tetapi bila ikannya berukuran kecil dan dalam jumlah yang banyak maka pada umumnya ikan disimpan dalam keadaan utuh. Pencucian juga dianjurkan untuk membuang kotoran, lendir dan darah. Jika keadaan memungkinkan, air dingin dan bersih yang boleh digunakan untuk mencuci ikan. Hindarkan pencucian ikan dengan air kolam pelabuhan, air sungai dan yang sejenisnya, karena dapat menyebabkan proses mempercepat pembusukan. Faktor yang lain seperti kecepatan penanganan ikan segera didinginkan dilakukan dengan cepat agar suhu ikan dapat segera diturunkan. 
Salah satu contoh untuk mencampur ikan dengan es dalam penyimpanan ialah pertama sekali dengan membuat lapisan es pada dasar wadah peti, kemudian diatasnya diletakan lapisan ikan, begitu seterusnya secara bergantian dan ditutup dengan lapisan es sebagai lapisan teratas. Dan ikan tidak boleh bersinggungan langsung dengan dinding wadah oleh sebab itu antara dinding wadah dengan ikan juga diberikan es.

Selasa, 12 Mei 2020

MENGENAL JARING INSANG (GILL NET)


Jaring insang (Gill net) adalah jaring ikan dengan bentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya dengan perkataan lain. Jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjang jaring. Pada bagian atas lembaran jaring dilekatkan pelampung (float) dan pada bagian bawah dilekatkan pemberat (sinker). Dengan menggunakan dua gaya yang berlawanan arah, yaitu daya apung dari pelampung yang bergerak keatas dan pemberat serta berat jaring yang bergerak kebawah, maka jaring akan terentang.
Jaring insang ada beberapa jenis yaitu jaring insang tetap, jaring insang dasar, jaring insang hanyut, dan jaring insang tiga lapis. sesuai namanya jaring insang permukaan dioperasikan di bagian atas permukaan laut, sedangkan jaring insang dasar dioperasikan pada bagian bawah permukaan laut. Untuk jaring insang tiga lapis jumlah jaring yang dibentangkan ada tiga lapis dimana ukuran mata jaring bagian dalam lebih besar daripada ukuran mata jaring bagian luar. Konstruksi jaring insang ada yang terdiri dari satu lembar jaring, dua lembar jaring, dan ada juga yang terdiri dari tiga lembar jaring. Untuk jaring insang yang konstruksinya hanya terdiri dari satu lembar disebut dengan “Jaring insang satu lembar (Gill net)”, yang konstruksinya terdiri dari dua lembar disebut dengan “Jaring insang dua lembar atau jaring insang lapis dua (Double gill net atau Semi trammel net)” dan untuk yang konstruksinya terdiri dari tiga lembar disebut dengan “ jaring insang tiga lembar (Trammel net) ”.
Pengoperasian jaring insang dilakukan dengan cara menghadang arah renang gerombolan ikan pelagis atau demersal yang menjadi sasaran tangkap sehingga terjerat pada jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, pertengahan maupun pada dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis jaring insang. Jaring insang dioperasikan secara menetap, dihanyutkan, melingkar maupun terpancang pada permukaan, pertengahan maupun dasar perairan. Jaring insang ada yang satu lapis maupun berlapis. Jaring insang berlapis umumnya dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal. Berdasarkan konstruksi dari cara pemasangan tali ris, jaring insang dapat dibagi lagi ke dalam empat jenis yaitu :
1.       Pemasangan tali ris atas dan tali ris bawah disambungkan langsung dengan badan jaring,
2.     Pemasangan tali ris atas disambungkan langsung dengan badan jaring, sedangkan tali ris bawah disambungkan dengan badan jaring melalui tali penggantung (hanging twine),
3.    Pemasangan tali ris atas disambungkan dengan badan jaring melalui tali penggantung (hanging twine), sedangkan tali ris bawah disambungkan langsung dengan badan jaring,
4.   Pemasangan tali ris atas dan tali ris bawah disambungkan dengan badan jaring melalui tali penggantung (hanging twine).


Literatur :

Kamis, 23 April 2020

MACAM-MACAM KAPAL PENANGKAP IKAN DI INDONESIA

Kapal Penangkap Ikan adalah kapal yang digunakan untuk mencari ikan termasuk di dalamnya menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan. Macam-macam kapal penangkap ikan bisa diklasifikasikan berdasarkan pada jenis alat tangkap yang di gunakannnya.
1.    Kapal Purse seine
Kapal іnі dalam operasinya menggunakan Purse Seine (Pukat Cincin). Cirin dari kapal Purse Sein yaitu adanya alat bantu Power Block pada Kapal Modern dan adanya alat bantu garden pada kapal purse sein tradisional. Untuk Power Block Berfungsi Menarik Jaring Purse seine dan posisi nya berada di belakang atau buritan kapal. Untuk Fungsi Gardan adalah menarik Tali Ris Bawah pada alat tangkap Purse seine .Peralatan dаrі kapai іnі terdiri dаrі takal derek уаng dilengkapi dеngаn net drum untuk menarik dan mengangkat jaring kе аtаѕ geladak dan winch untuk operasi penebaran dan penarikan jaring.

2.    Kapal gillnet
Kapal іnі mengoperasikan alat tangkap jaring insang (gill net) termasuk trammel net. Kapal-kapal berukuran kecil mempunyai ruang kemudi dі bagian haluan atau buritan; ѕеdаngkаn kapal ukuran sedang, menggunakan alat tangkap jarring insang hanyut dalam jumlah besar dan dilengkapi net hauler, posisi anjungan bіаѕаnуа terletak dі buritan


3.    Kapal longline
Seperti namanya kapal ini di buat dengan fungsi untuk menangkap ikan dengan alat tangkap long line. Besarnya kapal longline berkisar dari 30 GT- ratusan GT. Kapal ini di desain untuk lautan besar dan menangkap ikan jenis tuna. Kapal Jenis long line biasanya di beri alat bantu penangkapan ikan berupa Branch maki, Line hauler dan line arranger. Dan jenis Kapal penangkap Ikan long line ini biasanya membutuhkan keseimbangan kapal dari pada kecepatan ataupun tenaga kapal.

4.    Kapal pole and line
Kapal Pole and Line adalah kapal yang menggunakan alat tangkap pole and line atau huhate. Jenis kapal penangkap ini cenderung lebar di lambung kapal. Karena di lambung kapal di gunakan untuk abk duduk memancing. Untuk Jenis Kapal Pole and line selain lambung yang melebar lambung juga cenderung bertipe V karena kapal ini membutuhkan kecepatan dalam hal untuk mengejar gerombolan ikan perenang cepat.

5.    Kapal Bubu
Termasuk dalam bentuk kapal іnі аdаlаh kapal уаng menggunakan pond net, fyke net, stow net dann berbagai jenis perangkap lain. Pada perahu terbuka, ruang kemudi ditempatkan dі bagian haluan. Pada kapal kecil уаng bergetadak, ruang kemudi berada dі buritan atau anjungan, ѕеdаngkаn palka ikan berada dі tengah.



6.    Kapal Pancing Ulur (Hand Line)
Pancing Ulur dioperasikan dеngаn perahu, atau kapal-kapal kecil lainnya. Alat tangkap іnі dараt ditebar dan ditarik secara manual atau secara mekanis. Jіkа digunakan rel mekanis komponen іnі diikatkan pada lambung kapal

Selasa, 21 April 2020

PENANGANAN UMPAN HIDUP DALAM KAPAL POLE AND LINE

Operasi alat penangkapan ikan pole & line bergantung dengan adanya ketersediaan umpan hidup. Beberapa jenis umpan yang biasanya digunakan di kapal pole & line adalah teri, maeroa, tembang, kembung, layang, lalosi dan kapala batu.  
Di antara semua jenis umpan hidup, teri sebagai jenis yang terbaik karena memiliki sifat sebagai berikut:
1)     Waktu dibuang/ditebar dan jatuh ke laut tetap berenang di permukaan sambil menuju ke arah kapal untuk berlindung
2)     Dapat tahan hidup lama di dalam palka yang sempit  
3)     Memiliki warna yang kontras bila berada di perairan yang dalam
Kapal pole & line bergantung kepada umpan, ketika menangkap ikan. Penggunaan umpan perlu diperhatikan agar tidak boros dan efisien. Umpan hidup harus ditangani dengan baik agar tidak banyak yang mati.  Jika banyak umpan yang mati maka penggunaan umpan menjadi boros. Hal yang perlu diperhatikan dalam menangani umpan hidup diantaranya :
1)     Ikan selalu mendapatkan air yang cukup dan tidak pernah dalam kondisi kering 
2)     Kurangi kontak fisik, sehingga tidak menjadi stres
3)     Bak penampung umpan menerima penerangan pada malam hari 
4)     Menjaga kondisi oksigen pada air dengan adanya siklus air
5)     Pindahkan predator dan gangguan lainnya yang mempersempit ruang gerak umpan
Selain itu perlu dipersiapkan beberapa hal menjaga kualitas umpan hidup agar tetap baik diantaranya :
1)     Melakukan pengisian air laut di bak/palka dilakukan
2)     Ikan umpan dimuat sesuai kapasitas palka dan kebutuhan
3)     Melakukan sirkulasi air pada bak/palka umpan
Memasang lampu penerangan pada bak/palka umpan

Kamis, 09 April 2020

MENGENAL CIRI-CIRI IKAN YANG MEMILIKI KUALITAS BAIK



Ikan yang baik adalah ikan yang segar. Ikan segar masih mempunyai sifat sama seperti ikan hidup. Bentuk ikan, bau dan rasanya masih segar. Kesegaran ikan sebagai tolak ukur untuk membedakan ikan dengan kualitas baik atau tidak.
Bagaimanakah ciri-ciri ikan yang segar?

Tabel Perbandingan Ciri Ikan 
Bagian yang diamati
Ikan segar
Ikan Busuk
Mata
Bola mata timbul (menonjol) dan bening
Bola mata tenggelam dalam rongga mata, redup dan berkerut
Insang
Warnanya merah dan daun insang terspisah
Kecoklatan dan daun insangnya melekat satu sama lain
Lendir
Sedikit dan bersih
Banyak dan kerut
Kulit
Warna mengkilat dan cerah
Pucat dan suram
Daging
Keras, kenyal, tekanan oleh jari tidak tinggal
Lunak kalau ditekan jari berbekas
Sisik
Melekat kuat
Mudah lepas
Bau
Segar pada bagian luar dan insang
Busuk atau asam terutama pada insang

Ikan segar dapat diperoleh jika penanganan dan kebersihan baik, semakin lama ikan dibiarkan setelah ditangkap tanpa penanganan yang baik akan menurunkan kesegaran. 
Ada empat tingkat mutu ikan:
1.         Ikan yang tingkat kesegarannya sangat baik sekali
2.         Ikan yang kesegarannya baik
3.         Ikan yang kesegarannya mundur
4.         Ikan yang sudah tidak segar lagi


Sumber bacaan :
DJPT-KKP. 2014. Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan di Kapal Perikanan. Jakarta 
BPSDM-KKP. 2012. Modul Penanganan Ikan Hasil Tangkap. Jakarta 

Rabu, 01 Januari 2020

MENGENAL PANCING ULUR (HAND LINE)

Pancing ulur atau hand line adalah suatu konstruksi pancing yang umum digunakan oleh nelayan, khususnya nelayan yang berskala kecil (small scale fishery). Pada umumnya komponen – komponen pembentuk pancing ulur terdiri atas tali utama (main line) dan tali cabang (branch line) yang terbuat dari bahan PA monofilament, swivel yang terbuat dari besi putih, mata pancing (hook) yang terbuat dari besi, dan pemberat (sinkers) yang terbuat dari timah. Umpan yang digunakan pada pancing ulur adalah Layang (Decapterus sp.), kembung (Rastrelliger sp.) dan cumi – cumi (Loligo sp.) segar.

Pengoperasian pancing ulur adalah dengan mengaitkan umpan pada mata pancing yang telah diberi tali dan menenggelamkannya ke dalam air. Ketika umpan dimakan ikan, maka mata pancing akan tersangkut pada mulut ikan dan pancing ditarik ke perahu. Kapal yang biasa digunakan dalam pengoperasian alat tangkap handline adalah kapal atau perahu kayu tradisional, bisa juga dengan kapal motor tempel.

Pancing ulur terdiri dari 2 jenis, yaitu pancing ulur yang digunakan pada perairan dalam hingga mencapai kedalaman tertentu, dan pancing ulur yang dioperasikan di bagian permukaan air dengan cara menggerak – gerakkan umpan buatan sehingga menarik perhatian ikan yang menjadi target penangkapan untuk memangsa umpan tersebut. Pada umumnya nelayan menggunakan pancing perairan dalam yang menggunakan ikan hidup. Operasi penangkapan menggunakan pancing ulur dimulai dengan menentukan terlebih dahulu lokasi penangkapan ikan (fishing ground).

Pada umumnya di daerah sekitar rumpon karena jenis – jenis ikan baik yang berukuran kecil maupun besar berkumpul di sekitar rumpon. Dengan adanya rumpon ini maka dapat memudahkan nelayan untuk mencari gerombolan ikan, sehingga operasi penangkapan dapat dilakukan secara efektif dan efisien dan menghemat biaya operasi penangkapan. Setelah menemukan lokasi, mata pancing yang telah dipasang umpan dilepas dan diturunkan ke dalam perairan, tali diulur sampai pada kedalaman tertentu. Mata pancing dibiarkan bergerak mengikuti gerakan umpan hidup. Apabila ikan target memakan umpan, tali ditarik dengan teknik penarikan sedemikian rupa. Ikan hasil tangkapan dimasukkan ke dalam palka. Hasil tangkapan pancing ulur terdiri dari ikan pelagis dan ikan demersal. Umumnya ikan pelagis kecil seperti ikan layur (Trichiurus sp), dan ikan tongkol. Selain itu ikan Tuna mata besar (Thunnus obesus), madidihang (Thunnus albacores), cakalang (Katsuwonus pelamis) dan layaran (Istiophorus platypterus).

Sumber Bacaan :

Minggu, 29 Desember 2019

PENCEGAHAN KEPUNAHAN IKAN BELIDA

POPULASI IKAN BELIDA DI ALAM
Dari data produksi secara umum yang diambil dari Statistik Perikanan Indonesia selama 10 tahun, secara umum terlihat bahwa produksi ikan belida dicapai pada tahun 1991. setelah itu produksinya cenderung menurun dari tahun ke tahun. Penurunan produksi ikan belida tersebut menunjukkan bahwa populasi ikan tersebut sudah terancam kelestariannya. Di Sumatera ikan belida sudah mulai sulit didapat sejak 1995 dan banyak tertangkap di Sumatera Selatan. Sedangkan menurut survei plasma nutfah ikan di DAS Batanghari mengemukakan bahwa ikan belida sudah termasuk jenis ikan yang terancam kelestariannya.

FAKTOR - FAKTOR PENDORONG ANCAMAN KELESTARIAN IKAN BELIDA
1.   Peningkatan Intensitas Penangkapan
2.   Penangkapan Induk Ikan Belida
3.   Pengoperasian Alat Tangkap Terlarang dan Tidak Ramah Lingkungan
4.   Peningkatan Tekanan Ekologis oleh Limbah
5.   Pembukaan Lahan dan Pembangunan Infrastruktur
6.   Proses Penuaan Alami

TINDAKAN PENCEGAHAN KEPUNAHAN IKAN BELIDA
          Di Sumatera Selatan dan Jambi fakta menunjukkan bahwa secara umum ikan belida sudah terancam kepunahan populasinya. Untuk mencegah kepunahan jenis ikan tersebut, maka perlu membuat suatu keseimbangan antara kematian akibat penangkapan dan proses alami dengan rekrutmen sediaan ikan tersebut. Diantara cara mencegah kepunahan ikan belida tersebut adalah :
-      Mendirikan suaka perikanan
-      Domestikasi
-      Penebaran kembali,  dan
-      Pengembangan budidaya menjadi alternatif pencegahan kepunahan yang strategis
          Suaka perikanan, khususnya daerah pemijahan menjadi penting dalam tindakan mencegah kepunahan ikan belida. Suaka perikanan tersebut akan menajdi peluang kepada ikan belida untuk melakukan proses reproduksinya secara normal.
          Domestikasi adalah upaya manusia untuk menjinakkan ikan liar agar dapat tumbuh dan berkembang dalam kondisi terkontrol sesuai dengan keinginan mereka. Proses domestikasi dapat dimulai pemeliharaan ikan belida ukuran kecil   (benih)  atau   besar  yang  ditangkap  dari  alam  dalam
wadah budidaya. Ikan tersebut diberi pakan secara teratur sehingga matang kelamin dan dipijahkan secara terkontrol.
          Keberhasilan domestikasi ikan belida akan mendorong pengembangan budidaya yang dapat mengurangi tekanan penangkapan. Selain itu benih hasil pemijahan dapat ditebar kembali ke perairan umum. 

Upaya Untuk Melestarikan Sumber Daya Alam Laut

Persoalan pencemaran lingkungan bukan hanya merupakan bagian pandangan hidup, tapi juga prilaku buruk manusia yang destruktif yang telah menjadi bagian dari peradaban kita di masa sekarang ini.
Upaya melestarikan lingkungan laut Indonesia, adalah tugas manusia untuk kembali sadar dan peduli terhadap ekosistem laut Indonesia. Untuk itu, upaya yang dapat dilakukan dalam pelestarian dan perlindungan lingkungan alam laut diantaranya :
a.            Cagar alam laut
Upaya yang dapat dilakukan yaitu membuat peraturan bersama antara pemerintah dengan masyarakat nelayan dan pesisir menyangkut cagar alam laut guna melindungi laut dan segala isinya, agar mereka berevolusi secara alamiah.
b.            Zona Ekonomi Eksklusif
Sumber daya alam di laut kini semakin menjadi rebutan antar bangsa dan negara, apa lagi di wilayah yang tidak jelas aturan hukumnya. Karena itu barangkali perlu dipertegas atau diproklamasikan secara mondial zona ekonomi eksklusif, agar daerah-daerah perbatasan dengan negara tetangga semakin jelas status yuridisnya dan dengan demikian terhindar dari masalah yang bisa muncul dari relasi dengan negara tertangga.
c.            Pengembalian material dari pantai
Seperti aturan pengambilan pasir, kerikil, karang, kima, hutan bakau. Bukan hanya soal larangan tapi pemanfaatannya dan pelestariannya yang membutuhkan aturan dan kerjasama serta kesadaran partisipatif masyarakat, agar tidak terjadi pengrusakan, abrasii dll. Suatu aturan hukum yang bisa memberdayakan masyarakat yang membutuhkan material tersebut untuk pemenuhan kebutuhan kesejahteraan mereka sekaligus ada upaya pelestarian, pemeliharaan dan perlindungan. Hal ini dibutuhkan agar tidak terjadi pengurasan sumber-sumber alam laut, yang terdapat di laut maupun di dasar laut serta di pantai laut.
d.            Kurangi Eksploitasi Daerah Pesisir Pantai
Untuk melindungi lingkungan alam laut dibutuhkan upaya-upaya untuk mengatasi sedimentasi, sampah, tumpahan minyak, mengatasi erosi, serta eksplorasi dan eksploitasi daerah pesisir pantasi . Untuk itu perlu diimbau agar masyarakat semakin giatkan reboisasi atau reforestrasi di darat. Mencegah pengolahan lahan tidur secara serampang-an karena revitalisasi pertanian, yang makin menyebabkan erosi upaya menciptakan reboisasi, reforestrasi atau penghijauan, semuanya dimaksud untuk menciptakan ketahanan air, ketahanan pangan, sehingga tercipta daerah tahan longsor dan banjir.
e.            Adanya Aquarium Samudra
Manusia harus mulai sadar akan pentingnya membangun kembali ekosistem laut dengan cara penanaman terumbu karang, ataupun melalui penenggelaman rumah ikan. Hal ini bertujuan agar keindahan bawah laut bisa kembali. Selain itu pembatasan area penangkapan melalui penetapan wilayah MPA (Marine Protec Area). Hal ini bertujuan untuk memunculkan kembali suatu akuarium samudra.
Bila dikaji lebih jauh, bahwa persoalan lingkungan hidup, bukan hanya sekadar soal pencemaran, sampah dan upaya penanggulangannya secara teknis praktis. Tapi persoalan lingkungan adalah persoalan yang terkait erat dengan pandangan hidup, sikap dan prilaku manusia dalam hubungannya dengan alam. Kita berpendapat bahwa akar persoalan pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup alam laut, terdapat pada pandangan kita terhadap alam.
Bila pandangan kita benar dan baik, maka sikap, prilaku dan tindakan kita terhadap alam juga benar dan baik. Barangkali kita perlu meluruskan pandangan kita. Kita mestinya memandang lingkungan alam atau bumi ini adalah sahabat kita.

Sumber Literatur :
https://www.dosenpendidikan.co.id/sumber-daya-laut/

Selasa, 26 Mei 2020

MENGENAL PANCING RAWAI


Pancing jenis Rawai ini merupakan salah satu jenis alat tangkap yang cukup popular dan alat ini sudah banyak Diaplikasikan di beberapa Daerah. Pancing rawai terdiri dari sejumlah mata kail yang dipasangkan pada panjangnya tali yang mendatar. Tali yang mendatar ini merupakan tali utama dari suatu rangkaian pancing rawai. Jenis pancing rawai terdiri dari pancing rawai kolom perairan, dan pancing rawai dasar. Pancing rawai kolam perairan dan pancing rawai dasar masing-masing terdiri dari pancing rawal vertikal dan pancing rawai horizontal.Pancing rawai terdiri dari sejumlah mata kail yang dipasangkan pada panjangnya tali yang mendatar. Tali yang mendatar ini merupakan tali utama dari suatu rangkaian pancing rawai. Jenis pancing rawai terdiri dari pancing rawai kolom perairan, dan pancing rawai dasar. Pancing rawai kolam perairan dan pancing rawai dasar masing-masing terdiri dari pancing rawal vertikal dan pancing rawai horizontal.

Konstruksi pancing


Seperangkat alat rawai mempunyai susunan bagian-bagian dan ukuran sebagai berikut; tali utama ukuran 3-4 mm, panjang 450-500 m, cabang dengan panjang 30 cm s/d 100 cm jarak antara tali cabang 3-4 m. Ukuran mata pancing nomor 7 atau 9 untuk di perairan pantai, dan nomor 4 s/d 1 untuk perairan lepas pantai. Tail pelampung dengan ukuran 20-80 cm, dengan panjang 8 cm. Pada setiap 50 mata pancing dipasang 1 pelampung.

Metode pengoperasian

Metode pengoperasian dari pancing rawai adalah dengan cara menset pancing di perairan, kemudian dibiarkan untuk beberapa lama. Untuk rawai yang dioperasikan siang hari, kapal bersama alat tangkap dibiarkan hanyut, sedangkan untuk yang dioperasikan malam hari, setelah pancing diset, kapal dijangkar.



Jumat, 22 Mei 2020

PRINSIP-PRINSIP PENANGANAN IKAN AGAR TETAP SEGAR


Ikan segar adalah: Ikan yang masih memiliki sifat yang sama dengan ikan hidup. Bau dan rasanya masih segar. Kualitas ikan yang baik artinya kesegaran ikan terjaga, bebas dari pembusukan dan bebas dari kuman/bakteri. Kurang hati-hati dalam proses penanganan ikan, dan kebersihan yang tidak dijaga akan memberikan pengaruh buruk terhadap kualitas ikan.   Ikan yang ditangkap harus diperlakukan sebagai makanan sejak di atas kapal, sehingga faktor kebersihan harus benar-benar diperhatikan. Kualitas ikan yang baik akan memiliki nilai ekonomi yang baik pula, oleh karena banyak industri yang mencari ikan yang segar, terjaga kebersihannya dan bebas dari kuman/bakteri. Ketika ikan mati, jika tidak segera didinginkan dengan es, maka suhu panas akan mempercepat pembusukan, dimana ada bakteri. Selain itu, jika ikan mati tidak langsung didinginkan, akan menyebabkan kadar histamin yang tinggi yang dapat menimbulkan racun dan berbahaya bagi orang yang memakannya.
Penanganan ikan yang baik merupakan keharusan agar mendapatkan jaminan kualitas dan keamanan produk. Untuk mendapatkan kualitas tinggi tersebut diperlukan kedisplinan di dalam penanganan ikan.
Ada 4 prinsip yang harus diperhatikan dalam memperlakukan ikan hasil tangkapan agar tetap sgar yaitu :
1.    CEPAT = Setelah ikan ditangkap segera secepat mungkin disimpan di palka atau  
                     coolbox
2.    HATI-HATI = Gunakan alas diatas permukaan gladak, jangan sampai ikan terbentur 
                           saat dibawa ke palka atau dimasukkan dalam coolbox
3.    DINGIN = Tidak terkena sinar matahari langsung, simpan ikan di palka atau coolbox 
                      dengan es yang cukup, Usahakan suhu pusat tubuh ikan 0-40C
4.    BERSIH = bahan dan alat yang digunakan harus senantiasa bersih dan higienis, 
                       pekerja dalam keadaan bersih dan higienis

Sumber Bacaan :

Sjarif, B., Suwardiyono dan S. D. Gautama. 2012. Penangkapan dan Penanganan Ikan Tuna Segar di Kapal Rawai Tuna. Semarang

DJPT-KKP. 2014. Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan di Kapal Perikanan. Jakarta

Rabu, 20 Mei 2020

MENGENAL ALAT TANGKAP BUBU


Bubu merupakan alat tangkap yang umum dikenal dikalangan nelayan. Variasi bentuk bubu banyak sekali hampir setiap daerah perikanan mempunyai model bentuk sendiri seperti bentuk sangkar, silinder, gendang, segi tiga memanjang (kubus), dll. Bahan bubu umumnya dari anyaman bambu, secara garis besar bubu terdiri dari bagian-bagian badan, mulut dan pintu.

Bubu termasuk alat perangkap (traps) artinya alat tangkap ini berupa jebakan dan alat tangkap ini sifatnya pasif. Badan bubu berupa rongga, tempat dimana ikan-ikan terkurung, mulut bubu berbentuk seperti corong, merupakan pintu dimana ikan dapat masuk tapi tidak dapat keluar pintu bubu merupakan bagian yaitu tempat pengambilan hasil tangkapan.

Dilihat dari cara operasional penangkapannya bubu dapat dibedakan menjadi 3 golongan :

1.    Bubu dasar (ground fishpot)
Bubu yang daerah operasionalnya ada di dasar perairan. Untuk bubu dasar, ukuran bubu dasar beragam, menurut besar kecilnya yang di buat menurut keperluan. Untuk bubu kecil, biasanya memiliki ukuran panjang 1 m, lebar 50–75 cm, tinggi 25–30 cm. untuk bubu besar bisa meraih ukuran panjang 3, 5 m, lebar 2 m, tinggi 75–100 cm. Hasil tangkapan dengan bubu dasar biasanya terbagi dalam beberapa jenis ikan, udang mutu baik, seperti Kwe (Caranx spp), Baronang (Siganus spp), Kerapu (Epinephelus spp), Kakap (Lutjanus spp), kakatua (Scarus spp), Ekor kuning (Caeslo spp), Ikan Kaji (Diagramma spp), Lencam (Lethrinus spp), udang penaeld, udang barong, kepiting, rajungan, dan lain-lain.

2.    Bubu apung (floating fishpot)
Bubu yang dalam operasional penangkapannya diapungkan. Jenis bubu apung tidak sama dengan bubu dasar. Wujud bubu apung ini dapat silindris, dapat pula mirip kurung-kurung atau kantong yang dimaksud sero gantung. Bubu apung dilengkapi dengan pelampung dari bambu atau rakit bambu yang pemakaiannya ada yang ditempatkan pas dibagian atasnya. Hasil tangkapan bubu apung yaitu beberapa jenis ikan pelagik, seperti tembang, japuh, julung-julung, torani, kembung, selar, dan lain-lain. Pengoperasian Bubu apung dilengkapi pelampung dari bambu atau rakit bambu, dilabuh lewat tali panjang serta dikaitkan dengan jangkar. Panjang tali sesuai dengan kedalaman air, biasanya 1, 5 kali dari kedalaman air.

3.    Bubu hanyut (drifting fishpot)
Bubu yang dalam operasional penangkapannya dihanyutkan. Bubu hanyut atau “pakaja“ terhitung bubu ukuran kecil, berupa silindris, panjang 0, 75 m, diameter 0, 4-0, 5 m. Hasil tangkapan bubu tenggelam yaitu ikan torani, ikan terbang (flying fish). Pada saat penangkapan, bubu hanyut ditata dalam kelompok-kelompok yang selanjutnya dirangkaikan dengan kelompok-kelompok berikutnya hingga jumlahnya banyak, antara 20-30 buah, bergantung besar kecil perahu/kapal yang dipakai dalam penangkapan.

Sumber Bacaan :

Kamis, 14 Mei 2020

CARA PENANGANAN IKAN MENGGUNAKAN ES

Secara umum cara yang terbaik untuk mendinginkan ikan adalah dengan menggunakan es, karena es mendinginkan dengan cepat tanpa banyak mempengaruhi keadaan ikan dan dengan biaya yang tidak mahal. Es pada umumnya dibuat dari bahan air tawar tetapi dapat pula dibuat dengan air laut. Berdasarkan bentuknya es dapat dikelompokan menjadi 5 (lima) bentuk antara lain :
1. Es balok (block ice), berupa balok berukuran 12 – 60 kg per balok,
2. Es tabung (tube ice)
3. Es keping tebal (plate ice)
4. Es keping tipis (flake ice)
5. Es halus (slush ice)
Es balok adalah yang paling banyak di produksi dan banyak pula dibutuhkan oleh nelayan, karena murah dan mudah dalam pengangkutannya.
Es curah jika di campur dengan garam dapur mempunyai titik cair jauh di bawah 00C. Es yang bercampur dengan garam ini dapat mendinginkan ikan dengan cepat dan lebih efisien, tetapi menyebabkan ikan agak asin dan beratnya menjadi berkurang. Menilai mutu es yang baik dapat dilihat dari kemurnian dan kejernihan yaitu terlihat padat, bening dan kering (tidak meleleh). Es yang tidak kering menunjukan bahwa suhunya hanya 00C, sedangkan es yang kering suhunya  dapat mencapai -70C. Sedangkan es yang kurang baik adalah tidak padat, berwarna putih terdapat rongga-rongga yang berisi udara atau kotoran lain.
Cara-cara penanganan ikan dalam pendinginan ikan dengan es sangat beragam tergantung pada : ¾ Tempatnya seperti di kapal, tempat pendaratan ikan, tempat pelelangan, pasar ikan, pabrik pengolahan ikan, supermarket, dll. ¾ Jenis ikan ¾ Tujuan pendinginan ¾ Penataan dan perbandingan jumlah ikan dan es didalam peti atau palka Prosedur umum yang dianjurkan dalam penanganan ikan sebelum disimpan ialah ikan terlebih dahulu dibuang isi perut dan insangnya, tetapi bila ikannya berukuran kecil dan dalam jumlah yang banyak maka pada umumnya ikan disimpan dalam keadaan utuh. Pencucian juga dianjurkan untuk membuang kotoran, lendir dan darah. Jika keadaan memungkinkan, air dingin dan bersih yang boleh digunakan untuk mencuci ikan. Hindarkan pencucian ikan dengan air kolam pelabuhan, air sungai dan yang sejenisnya, karena dapat menyebabkan proses mempercepat pembusukan. Faktor yang lain seperti kecepatan penanganan ikan segera didinginkan dilakukan dengan cepat agar suhu ikan dapat segera diturunkan. 
Salah satu contoh untuk mencampur ikan dengan es dalam penyimpanan ialah pertama sekali dengan membuat lapisan es pada dasar wadah peti, kemudian diatasnya diletakan lapisan ikan, begitu seterusnya secara bergantian dan ditutup dengan lapisan es sebagai lapisan teratas. Dan ikan tidak boleh bersinggungan langsung dengan dinding wadah oleh sebab itu antara dinding wadah dengan ikan juga diberikan es.

Selasa, 12 Mei 2020

MENGENAL JARING INSANG (GILL NET)


Jaring insang (Gill net) adalah jaring ikan dengan bentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring sama ukurannya pada seluruh jaring, lebar jaring lebih pendek jika dibandingkan dengan panjangnya dengan perkataan lain. Jumlah mesh depth lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh size pada arah panjang jaring. Pada bagian atas lembaran jaring dilekatkan pelampung (float) dan pada bagian bawah dilekatkan pemberat (sinker). Dengan menggunakan dua gaya yang berlawanan arah, yaitu daya apung dari pelampung yang bergerak keatas dan pemberat serta berat jaring yang bergerak kebawah, maka jaring akan terentang.
Jaring insang ada beberapa jenis yaitu jaring insang tetap, jaring insang dasar, jaring insang hanyut, dan jaring insang tiga lapis. sesuai namanya jaring insang permukaan dioperasikan di bagian atas permukaan laut, sedangkan jaring insang dasar dioperasikan pada bagian bawah permukaan laut. Untuk jaring insang tiga lapis jumlah jaring yang dibentangkan ada tiga lapis dimana ukuran mata jaring bagian dalam lebih besar daripada ukuran mata jaring bagian luar. Konstruksi jaring insang ada yang terdiri dari satu lembar jaring, dua lembar jaring, dan ada juga yang terdiri dari tiga lembar jaring. Untuk jaring insang yang konstruksinya hanya terdiri dari satu lembar disebut dengan “Jaring insang satu lembar (Gill net)”, yang konstruksinya terdiri dari dua lembar disebut dengan “Jaring insang dua lembar atau jaring insang lapis dua (Double gill net atau Semi trammel net)” dan untuk yang konstruksinya terdiri dari tiga lembar disebut dengan “ jaring insang tiga lembar (Trammel net) ”.
Pengoperasian jaring insang dilakukan dengan cara menghadang arah renang gerombolan ikan pelagis atau demersal yang menjadi sasaran tangkap sehingga terjerat pada jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, pertengahan maupun pada dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis jaring insang. Jaring insang dioperasikan secara menetap, dihanyutkan, melingkar maupun terpancang pada permukaan, pertengahan maupun dasar perairan. Jaring insang ada yang satu lapis maupun berlapis. Jaring insang berlapis umumnya dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal. Berdasarkan konstruksi dari cara pemasangan tali ris, jaring insang dapat dibagi lagi ke dalam empat jenis yaitu :
1.       Pemasangan tali ris atas dan tali ris bawah disambungkan langsung dengan badan jaring,
2.     Pemasangan tali ris atas disambungkan langsung dengan badan jaring, sedangkan tali ris bawah disambungkan dengan badan jaring melalui tali penggantung (hanging twine),
3.    Pemasangan tali ris atas disambungkan dengan badan jaring melalui tali penggantung (hanging twine), sedangkan tali ris bawah disambungkan langsung dengan badan jaring,
4.   Pemasangan tali ris atas dan tali ris bawah disambungkan dengan badan jaring melalui tali penggantung (hanging twine).


Literatur :

Kamis, 23 April 2020

MACAM-MACAM KAPAL PENANGKAP IKAN DI INDONESIA

Kapal Penangkap Ikan adalah kapal yang digunakan untuk mencari ikan termasuk di dalamnya menampung dan mengangkut, menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan. Macam-macam kapal penangkap ikan bisa diklasifikasikan berdasarkan pada jenis alat tangkap yang di gunakannnya.
1.    Kapal Purse seine
Kapal іnі dalam operasinya menggunakan Purse Seine (Pukat Cincin). Cirin dari kapal Purse Sein yaitu adanya alat bantu Power Block pada Kapal Modern dan adanya alat bantu garden pada kapal purse sein tradisional. Untuk Power Block Berfungsi Menarik Jaring Purse seine dan posisi nya berada di belakang atau buritan kapal. Untuk Fungsi Gardan adalah menarik Tali Ris Bawah pada alat tangkap Purse seine .Peralatan dаrі kapai іnі terdiri dаrі takal derek уаng dilengkapi dеngаn net drum untuk menarik dan mengangkat jaring kе аtаѕ geladak dan winch untuk operasi penebaran dan penarikan jaring.

2.    Kapal gillnet
Kapal іnі mengoperasikan alat tangkap jaring insang (gill net) termasuk trammel net. Kapal-kapal berukuran kecil mempunyai ruang kemudi dі bagian haluan atau buritan; ѕеdаngkаn kapal ukuran sedang, menggunakan alat tangkap jarring insang hanyut dalam jumlah besar dan dilengkapi net hauler, posisi anjungan bіаѕаnуа terletak dі buritan


3.    Kapal longline
Seperti namanya kapal ini di buat dengan fungsi untuk menangkap ikan dengan alat tangkap long line. Besarnya kapal longline berkisar dari 30 GT- ratusan GT. Kapal ini di desain untuk lautan besar dan menangkap ikan jenis tuna. Kapal Jenis long line biasanya di beri alat bantu penangkapan ikan berupa Branch maki, Line hauler dan line arranger. Dan jenis Kapal penangkap Ikan long line ini biasanya membutuhkan keseimbangan kapal dari pada kecepatan ataupun tenaga kapal.

4.    Kapal pole and line
Kapal Pole and Line adalah kapal yang menggunakan alat tangkap pole and line atau huhate. Jenis kapal penangkap ini cenderung lebar di lambung kapal. Karena di lambung kapal di gunakan untuk abk duduk memancing. Untuk Jenis Kapal Pole and line selain lambung yang melebar lambung juga cenderung bertipe V karena kapal ini membutuhkan kecepatan dalam hal untuk mengejar gerombolan ikan perenang cepat.

5.    Kapal Bubu
Termasuk dalam bentuk kapal іnі аdаlаh kapal уаng menggunakan pond net, fyke net, stow net dann berbagai jenis perangkap lain. Pada perahu terbuka, ruang kemudi ditempatkan dі bagian haluan. Pada kapal kecil уаng bergetadak, ruang kemudi berada dі buritan atau anjungan, ѕеdаngkаn palka ikan berada dі tengah.



6.    Kapal Pancing Ulur (Hand Line)
Pancing Ulur dioperasikan dеngаn perahu, atau kapal-kapal kecil lainnya. Alat tangkap іnі dараt ditebar dan ditarik secara manual atau secara mekanis. Jіkа digunakan rel mekanis komponen іnі diikatkan pada lambung kapal

Selasa, 21 April 2020

PENANGANAN UMPAN HIDUP DALAM KAPAL POLE AND LINE

Operasi alat penangkapan ikan pole & line bergantung dengan adanya ketersediaan umpan hidup. Beberapa jenis umpan yang biasanya digunakan di kapal pole & line adalah teri, maeroa, tembang, kembung, layang, lalosi dan kapala batu.  
Di antara semua jenis umpan hidup, teri sebagai jenis yang terbaik karena memiliki sifat sebagai berikut:
1)     Waktu dibuang/ditebar dan jatuh ke laut tetap berenang di permukaan sambil menuju ke arah kapal untuk berlindung
2)     Dapat tahan hidup lama di dalam palka yang sempit  
3)     Memiliki warna yang kontras bila berada di perairan yang dalam
Kapal pole & line bergantung kepada umpan, ketika menangkap ikan. Penggunaan umpan perlu diperhatikan agar tidak boros dan efisien. Umpan hidup harus ditangani dengan baik agar tidak banyak yang mati.  Jika banyak umpan yang mati maka penggunaan umpan menjadi boros. Hal yang perlu diperhatikan dalam menangani umpan hidup diantaranya :
1)     Ikan selalu mendapatkan air yang cukup dan tidak pernah dalam kondisi kering 
2)     Kurangi kontak fisik, sehingga tidak menjadi stres
3)     Bak penampung umpan menerima penerangan pada malam hari 
4)     Menjaga kondisi oksigen pada air dengan adanya siklus air
5)     Pindahkan predator dan gangguan lainnya yang mempersempit ruang gerak umpan
Selain itu perlu dipersiapkan beberapa hal menjaga kualitas umpan hidup agar tetap baik diantaranya :
1)     Melakukan pengisian air laut di bak/palka dilakukan
2)     Ikan umpan dimuat sesuai kapasitas palka dan kebutuhan
3)     Melakukan sirkulasi air pada bak/palka umpan
Memasang lampu penerangan pada bak/palka umpan

Kamis, 09 April 2020

MENGENAL CIRI-CIRI IKAN YANG MEMILIKI KUALITAS BAIK



Ikan yang baik adalah ikan yang segar. Ikan segar masih mempunyai sifat sama seperti ikan hidup. Bentuk ikan, bau dan rasanya masih segar. Kesegaran ikan sebagai tolak ukur untuk membedakan ikan dengan kualitas baik atau tidak.
Bagaimanakah ciri-ciri ikan yang segar?

Tabel Perbandingan Ciri Ikan 
Bagian yang diamati
Ikan segar
Ikan Busuk
Mata
Bola mata timbul (menonjol) dan bening
Bola mata tenggelam dalam rongga mata, redup dan berkerut
Insang
Warnanya merah dan daun insang terspisah
Kecoklatan dan daun insangnya melekat satu sama lain
Lendir
Sedikit dan bersih
Banyak dan kerut
Kulit
Warna mengkilat dan cerah
Pucat dan suram
Daging
Keras, kenyal, tekanan oleh jari tidak tinggal
Lunak kalau ditekan jari berbekas
Sisik
Melekat kuat
Mudah lepas
Bau
Segar pada bagian luar dan insang
Busuk atau asam terutama pada insang

Ikan segar dapat diperoleh jika penanganan dan kebersihan baik, semakin lama ikan dibiarkan setelah ditangkap tanpa penanganan yang baik akan menurunkan kesegaran. 
Ada empat tingkat mutu ikan:
1.         Ikan yang tingkat kesegarannya sangat baik sekali
2.         Ikan yang kesegarannya baik
3.         Ikan yang kesegarannya mundur
4.         Ikan yang sudah tidak segar lagi


Sumber bacaan :
DJPT-KKP. 2014. Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan di Kapal Perikanan. Jakarta 
BPSDM-KKP. 2012. Modul Penanganan Ikan Hasil Tangkap. Jakarta 

Rabu, 01 Januari 2020

MENGENAL PANCING ULUR (HAND LINE)

Pancing ulur atau hand line adalah suatu konstruksi pancing yang umum digunakan oleh nelayan, khususnya nelayan yang berskala kecil (small scale fishery). Pada umumnya komponen – komponen pembentuk pancing ulur terdiri atas tali utama (main line) dan tali cabang (branch line) yang terbuat dari bahan PA monofilament, swivel yang terbuat dari besi putih, mata pancing (hook) yang terbuat dari besi, dan pemberat (sinkers) yang terbuat dari timah. Umpan yang digunakan pada pancing ulur adalah Layang (Decapterus sp.), kembung (Rastrelliger sp.) dan cumi – cumi (Loligo sp.) segar.

Pengoperasian pancing ulur adalah dengan mengaitkan umpan pada mata pancing yang telah diberi tali dan menenggelamkannya ke dalam air. Ketika umpan dimakan ikan, maka mata pancing akan tersangkut pada mulut ikan dan pancing ditarik ke perahu. Kapal yang biasa digunakan dalam pengoperasian alat tangkap handline adalah kapal atau perahu kayu tradisional, bisa juga dengan kapal motor tempel.

Pancing ulur terdiri dari 2 jenis, yaitu pancing ulur yang digunakan pada perairan dalam hingga mencapai kedalaman tertentu, dan pancing ulur yang dioperasikan di bagian permukaan air dengan cara menggerak – gerakkan umpan buatan sehingga menarik perhatian ikan yang menjadi target penangkapan untuk memangsa umpan tersebut. Pada umumnya nelayan menggunakan pancing perairan dalam yang menggunakan ikan hidup. Operasi penangkapan menggunakan pancing ulur dimulai dengan menentukan terlebih dahulu lokasi penangkapan ikan (fishing ground).

Pada umumnya di daerah sekitar rumpon karena jenis – jenis ikan baik yang berukuran kecil maupun besar berkumpul di sekitar rumpon. Dengan adanya rumpon ini maka dapat memudahkan nelayan untuk mencari gerombolan ikan, sehingga operasi penangkapan dapat dilakukan secara efektif dan efisien dan menghemat biaya operasi penangkapan. Setelah menemukan lokasi, mata pancing yang telah dipasang umpan dilepas dan diturunkan ke dalam perairan, tali diulur sampai pada kedalaman tertentu. Mata pancing dibiarkan bergerak mengikuti gerakan umpan hidup. Apabila ikan target memakan umpan, tali ditarik dengan teknik penarikan sedemikian rupa. Ikan hasil tangkapan dimasukkan ke dalam palka. Hasil tangkapan pancing ulur terdiri dari ikan pelagis dan ikan demersal. Umumnya ikan pelagis kecil seperti ikan layur (Trichiurus sp), dan ikan tongkol. Selain itu ikan Tuna mata besar (Thunnus obesus), madidihang (Thunnus albacores), cakalang (Katsuwonus pelamis) dan layaran (Istiophorus platypterus).

Sumber Bacaan :

Minggu, 29 Desember 2019

PENCEGAHAN KEPUNAHAN IKAN BELIDA

POPULASI IKAN BELIDA DI ALAM
Dari data produksi secara umum yang diambil dari Statistik Perikanan Indonesia selama 10 tahun, secara umum terlihat bahwa produksi ikan belida dicapai pada tahun 1991. setelah itu produksinya cenderung menurun dari tahun ke tahun. Penurunan produksi ikan belida tersebut menunjukkan bahwa populasi ikan tersebut sudah terancam kelestariannya. Di Sumatera ikan belida sudah mulai sulit didapat sejak 1995 dan banyak tertangkap di Sumatera Selatan. Sedangkan menurut survei plasma nutfah ikan di DAS Batanghari mengemukakan bahwa ikan belida sudah termasuk jenis ikan yang terancam kelestariannya.

FAKTOR - FAKTOR PENDORONG ANCAMAN KELESTARIAN IKAN BELIDA
1.   Peningkatan Intensitas Penangkapan
2.   Penangkapan Induk Ikan Belida
3.   Pengoperasian Alat Tangkap Terlarang dan Tidak Ramah Lingkungan
4.   Peningkatan Tekanan Ekologis oleh Limbah
5.   Pembukaan Lahan dan Pembangunan Infrastruktur
6.   Proses Penuaan Alami

TINDAKAN PENCEGAHAN KEPUNAHAN IKAN BELIDA
          Di Sumatera Selatan dan Jambi fakta menunjukkan bahwa secara umum ikan belida sudah terancam kepunahan populasinya. Untuk mencegah kepunahan jenis ikan tersebut, maka perlu membuat suatu keseimbangan antara kematian akibat penangkapan dan proses alami dengan rekrutmen sediaan ikan tersebut. Diantara cara mencegah kepunahan ikan belida tersebut adalah :
-      Mendirikan suaka perikanan
-      Domestikasi
-      Penebaran kembali,  dan
-      Pengembangan budidaya menjadi alternatif pencegahan kepunahan yang strategis
          Suaka perikanan, khususnya daerah pemijahan menjadi penting dalam tindakan mencegah kepunahan ikan belida. Suaka perikanan tersebut akan menajdi peluang kepada ikan belida untuk melakukan proses reproduksinya secara normal.
          Domestikasi adalah upaya manusia untuk menjinakkan ikan liar agar dapat tumbuh dan berkembang dalam kondisi terkontrol sesuai dengan keinginan mereka. Proses domestikasi dapat dimulai pemeliharaan ikan belida ukuran kecil   (benih)  atau   besar  yang  ditangkap  dari  alam  dalam
wadah budidaya. Ikan tersebut diberi pakan secara teratur sehingga matang kelamin dan dipijahkan secara terkontrol.
          Keberhasilan domestikasi ikan belida akan mendorong pengembangan budidaya yang dapat mengurangi tekanan penangkapan. Selain itu benih hasil pemijahan dapat ditebar kembali ke perairan umum. 

Upaya Untuk Melestarikan Sumber Daya Alam Laut

Persoalan pencemaran lingkungan bukan hanya merupakan bagian pandangan hidup, tapi juga prilaku buruk manusia yang destruktif yang telah menjadi bagian dari peradaban kita di masa sekarang ini.
Upaya melestarikan lingkungan laut Indonesia, adalah tugas manusia untuk kembali sadar dan peduli terhadap ekosistem laut Indonesia. Untuk itu, upaya yang dapat dilakukan dalam pelestarian dan perlindungan lingkungan alam laut diantaranya :
a.            Cagar alam laut
Upaya yang dapat dilakukan yaitu membuat peraturan bersama antara pemerintah dengan masyarakat nelayan dan pesisir menyangkut cagar alam laut guna melindungi laut dan segala isinya, agar mereka berevolusi secara alamiah.
b.            Zona Ekonomi Eksklusif
Sumber daya alam di laut kini semakin menjadi rebutan antar bangsa dan negara, apa lagi di wilayah yang tidak jelas aturan hukumnya. Karena itu barangkali perlu dipertegas atau diproklamasikan secara mondial zona ekonomi eksklusif, agar daerah-daerah perbatasan dengan negara tetangga semakin jelas status yuridisnya dan dengan demikian terhindar dari masalah yang bisa muncul dari relasi dengan negara tertangga.
c.            Pengembalian material dari pantai
Seperti aturan pengambilan pasir, kerikil, karang, kima, hutan bakau. Bukan hanya soal larangan tapi pemanfaatannya dan pelestariannya yang membutuhkan aturan dan kerjasama serta kesadaran partisipatif masyarakat, agar tidak terjadi pengrusakan, abrasii dll. Suatu aturan hukum yang bisa memberdayakan masyarakat yang membutuhkan material tersebut untuk pemenuhan kebutuhan kesejahteraan mereka sekaligus ada upaya pelestarian, pemeliharaan dan perlindungan. Hal ini dibutuhkan agar tidak terjadi pengurasan sumber-sumber alam laut, yang terdapat di laut maupun di dasar laut serta di pantai laut.
d.            Kurangi Eksploitasi Daerah Pesisir Pantai
Untuk melindungi lingkungan alam laut dibutuhkan upaya-upaya untuk mengatasi sedimentasi, sampah, tumpahan minyak, mengatasi erosi, serta eksplorasi dan eksploitasi daerah pesisir pantasi . Untuk itu perlu diimbau agar masyarakat semakin giatkan reboisasi atau reforestrasi di darat. Mencegah pengolahan lahan tidur secara serampang-an karena revitalisasi pertanian, yang makin menyebabkan erosi upaya menciptakan reboisasi, reforestrasi atau penghijauan, semuanya dimaksud untuk menciptakan ketahanan air, ketahanan pangan, sehingga tercipta daerah tahan longsor dan banjir.
e.            Adanya Aquarium Samudra
Manusia harus mulai sadar akan pentingnya membangun kembali ekosistem laut dengan cara penanaman terumbu karang, ataupun melalui penenggelaman rumah ikan. Hal ini bertujuan agar keindahan bawah laut bisa kembali. Selain itu pembatasan area penangkapan melalui penetapan wilayah MPA (Marine Protec Area). Hal ini bertujuan untuk memunculkan kembali suatu akuarium samudra.
Bila dikaji lebih jauh, bahwa persoalan lingkungan hidup, bukan hanya sekadar soal pencemaran, sampah dan upaya penanggulangannya secara teknis praktis. Tapi persoalan lingkungan adalah persoalan yang terkait erat dengan pandangan hidup, sikap dan prilaku manusia dalam hubungannya dengan alam. Kita berpendapat bahwa akar persoalan pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup alam laut, terdapat pada pandangan kita terhadap alam.
Bila pandangan kita benar dan baik, maka sikap, prilaku dan tindakan kita terhadap alam juga benar dan baik. Barangkali kita perlu meluruskan pandangan kita. Kita mestinya memandang lingkungan alam atau bumi ini adalah sahabat kita.

Sumber Literatur :
https://www.dosenpendidikan.co.id/sumber-daya-laut/